Sunday, 24 September 2017

Pernyataan Lengkap Wiranto Soal G30SPKI dan Pembelian Senjata oleh BIN

Minggu 24 September 2017, 18:58 WIB

Pernyataan Lengkap Wiranto Soal G30SPKI dan Pembelian Senjata oleh BIN

CYBER MUSLIM MERAH PUTIH

Jakarta - 

Pada Minggu petang ini, Menkopolhukam Wiranto menggelar jumpa pers. Menanggapi dua isu politik terkini.

Berikut pernyataan lengkap Wiranto dalam konferensi pers itu:

PENJELASAN MENKO POLHUKAM TENTANG ISU POLITIK TERKINI

Seperti kita ketahui setiap menjelang pemilu apakah Pemilu Kada atau Pemilu Presiden dan Wakil Presiden suhu politik selalu memanas. Keadaan itu sudah berlaku sejak dahulu dan menjadi bagian dari pasang surutnya suhu politik dalam alam demokrasi. Pemerintah c.q. Kemenko Polhukam dan segenap jajarannya akan terus menjaga agar memanasnya suhu politik tersebut masih pada batas-batas kewajaran agar tidak menimbulkan instabilitas nasional yang tentu akan menganggu berbagai kepentingan nasional.

Menjelang bulan Oktober telah muncul berbagai isu yang cukup meresahkan masyarakat
dan telah menjadi perdebatan publik dengan berbagai spekulasi yang menggiring
terjadinya konflik horizontal yang perlu segera dihentikan agar tak mengganggu
kepentingan nasional.

Oleh sebab itu perlu penjelasan resmi dari Kemenko Polhukam berkenaan dengan
beberapa isu miring yang telah tersebar di kalangan masyarakat baik lewat Media
Mainstream maupun Media Sosial.

Pertama, mengenai pemutaran kembali Film Penghianatan G.30 S /PKI, dan ajakan untuk
nonton bareng bagi beberapa institusi merupakan hal yang tidak perlu diperdebatkan.
Peristiwa 30 September 1965 adalah peristiwa sejarah kelam bangsa Indonesia. Masih
banyak peristiwa serupa yang dialami bangsa Indonesia seperti pemberontakan DI/TII,
Pemberontakan PRRI/Permesta, peristiwa Malari di tahun 1974 yang semua itu adalah
rangkaian fakta sejarah yang sudah berlalu. Kita tidak mungkin memutar kembali jarum jam dan mengubah fakta sejarah sekehendak kita. Sejarah tersebut merupakan perjalanan bangsa yang dapat dijadikan referensi bangsa untuk menatap ke masa depan. Menonton film sejarah memang perlu bagi generasi berikutnya untuk memahami sejarah kebangsaan Indonesia secara utuh. Kita tak perlu malu, marah atau kesal menonton film sejarah. 

Ajakan atau anjuran menonton tak perlu dipolemikkan apalagi sampai membuat bangsa ini bertengkar dan berselisih. Anjuran Presiden untuk mempelajari sejarah kebangsaan dengan menyesuaikan cara penyajian agar mudah dipahami oleh generasi Milenium, merupakan kebijakan yang rasional.

Kedua, informasi dari Panglima TNI tentang adanya institusi di luar TNI dan Polri yang akan membeli 5000 pucuk senjata standard TNI, tidak pada tempatnya dihubungkan dengan eskalasi kondisi keamanan, karena ternyata hanya adanya komunikasi antar institusi yang belum tuntas. 

Setelah dikonfirmasikan kepada Panglima TNI, Kapolri, Kepala BIN dan instansi terkait, terdapat pengadaan 500 pucuk senjata laras pendek buatan PINDAD (bukan
5000 pucuk dan bukan standar TNI) oleh BIN untuk keperluan pendidikan Intelijen.
Pengadaan seperti ini ijinnya bukan dari Mabes TNI tetapi cukup dari Mabes Polri. Dengan demikian prosedur pengadaannya tidak secara spesifik memerlukan kebijakan Presiden. 

Berdasarkan penjelasan ini diharapkan tidak ada lagi polemik dan politisasi atas kedua isu
tersebut.

Jakarta, 24 September 2017
Menko Polhukam
TTD


Wiranto

MENTERI KOORDINATOR
BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN
REPUBLIK INDONESIA  
Baca selengkapnya

Presiden & Panglima TNI Setuju Film G30S/PKI Direvisi


JAKARTA, CYBER MUSLIM MERAH PUTIH - Tentara Nasional Indonesia (TNI) menggelar silaturahim Panglima TNI dengan purnawirawan TNI di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (22/9/2017).
Acara tersebut dihadiri Wakil Presiden keenam RI Tri Sutrisno, Menteri Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, mantan Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Sutiyoso, dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.
Selain itu, acara juga dihadiri Ketua Umum DPP Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) Agum Gumelar, mantan Panglima TNI Widodo AS, mantan Panglima TNI Endriartono Sutarto, dan mantan Panglima TNI Agus Suhartono.
Saat menyampaikan sambutan di hadapan para seniornya itu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyampaikan bahwa kepercayaan publik terhadap TNI semakin meningkat. Selain itu, Gatot juga menyinggung soal masa baktinya yang akan habis pada Maret 2018.

"Pada hari ini, kurang lebih enam bulan dari berakhirnya masa dinas aktif saya sebagai panglima. Saya sangat ingin mendengar saran dan masukan dari bapak-bapak sekalian sebagai pedoman bagi saya menyelesaikan tugas di TNI," kata dia.

Sementara, Tri Sutrisno mengaku terkesan dengan kinerja Gatot karena TNI mendapat kepercayaan yang tinggi dari maayarakat. Ia pun berpesan kepada Gatot untuk besar hati melepas jabatan Panglima TNI nantinya.
"Selesai tugas secara organisasi itu biasa. Kita harus tinggalkan TNI dengan legawa, enggak boleh kita punya sindrom," kata Tri.
Selain itu, Tri juga mengingatkan Gatot untuk selalu berjuang dengan cara apa pun setelah pensiun nanti. Hal itu demi menjaga dan mempertahankan NKRI.
"Saya dukung Anda selama menjabat atau selesai kita tetap berangkul tangan. Di luar TNI luas. Mau jadi (kader) partai, Saya (akan) datang. Mau jadi politisi, apa pun boleh. Tapi perjuangan jangan dilepaskan, jadi rutinutas," kata Tri.

Ziarah

Gatot juga menyinggung soal ziarah ke makam Presiden pertama RI Soekarno, makam Panglima Besar Jenderal Sudirman. Selain itu, Gatot juga mengunjungi makam para prajurit TNI di Baucau, Timor Leste.

Kunjungan itu dilakukan dalam rangka menyongsong HUT ke-72 TNI pada Kamis, 5 Oktober 2017.
Gatot menyampaikan, kegiatan ziarah sudah berlangsung sejak beberapa tahun belakangan. Hal ini sebagai upaya mengingat nilai-nilai perjuangan yang diupayakan para pejuang.

"Tradisi ini akan terus dilanjutkan dari waktu ke waktu, sebagai upaya memelihara dan meneruskan semangat dan api perjuangan TNI yang tak akan pernah kunjung padam dalam membela dan menegakan kedaulatan NKRI," kata Gatot.


Presiden & Panglima TNI Setuju Film G30S/PKI Direvisi
Baca selengkapnya